Zakat Maut Pasuruan


Peristiwa tanggal 15 September 2008 di Pasuruan Jawa Timur benar-benar menyedihkan. Apalagi setelah melihat foto-foto ini yang untuk meng-upload-nya saja saya tidak tega. Namun salah satunya saya upload guna menjadi pelajaran buat diri sendiri.Korban tewas berjumlah 21 orang dan semuanya wanita yang berusia antara 30-70 tahun. Sementara 10 orang masuk Rumah sakit dan 2 diantaranya dalam keadaan kritis. Ternyata kejadian serupa (namun tidak memakan korban jiwa) terjadi pada tanggal 27 September 2007, pembagian zakat Syaikhon juga bermasalah. Saat itu, setiap penerima mendapat zakat Rp 25 ribu. Pembagian zakat saat itu difokuskan di depan rumah Syaikhon. Seperti yang terjadi tahun ini, tidak ada aparat keamanan yang dilibatkan untuk mengamankan kegiatan tersebut. Satu-satunya pengaturan hanya pemberian tinta merah (dari bahan pewarna) di jari para calon penerima.

Miris memang, namun kita juga tidak selayaknya bersikap su’udzon terhadap motovasi dari pemberi zakat, yaitu Bp. H. Syaikhon yang terkenal dermawan dan pengusaha sukses. Menurut informasi dari Kilas Selebritis yang tayang pada 17/09/2008 sore di MNC news, Beliau adalah seorang pengusaha sarang burung walet yang sukses dan memang sudah menjadi kebiasaan baginya untuk menyalurkan zakat maal kepada warga sekitar, hal ini sudah berlangsung sejak tahun 1980. Zakat maal yang dikeluarkan tahun ini berjumlah Rp.30,000,- per kepala dan sengaja pemberitahuannya disebarluaskan via radio dan pamflet, seperti tahun-tahun sebelumnya. Massa yang kali ini datang berjumlah 5000 orang dan pihak keluarga (panitia) tidak dapat mengendalikan masa seperti yang dituturkan disini. Subhanallah.

Massa yang datang memang lebih banyak dari yang diperkirakan, namun budaya masyarakat yang mudah panik, mudah terprovokasi, tidak tertib, tidak sabar, dan sulit diatur juga menyumbang andil yang cukup besar dalam tragedi ini. Kini anak dari Bp. H. Syaikhon yaitu Furqon telah ditetapkan sebagai tersangka. Mudah-mudah para korban diterima amal ibadah mereka oleh Allah SWT. Amin. Mudah-mudahan juga Bp. H. Syaikhon dan keluarga dapat melakukan koordinasi yang baik dalam pembagian zakat baik dengan aparat maupun instansi-instansi yang terkait. Mudah-mudahan juga para dermawan, khususnya Bp. H. Syaikhon dan keluarga, tidak menjadi kapok dalam menyalurkan sedekah, sumbangan, zakat-nya. Mungkin ini ujian dari Allah.

Lepas dari kontroversi siapa yang salah, yang tercermin dari kejadian ini adalah :

Masyarakat kurang mempercayai lembaga penyaluran dana milik pemerintah. Walaupun eksistensi dan legitimasi lembaga-lembaga yang ada memang diakui, namun keprofesionalan, mungkin tepatnya kejujuran, para personilnya sangat diragukan warga. Mungkin sebaiknya lembaga-lembaga terkait introspeksi diri dan berbenah diri. Sosialisasikan prosedur pemberian dan penyaluran dana yang mudah dan transparan, jangan berbelit-belit. Secara berkala publikasikan laporan keuangan kepada masyarakat. Publikasikan juga bukti-bukti fisik pembangunan yang telah diprogramkan. Bagaimana warga mau percaya kalo personilnya tidak transparan.

Sebaiknya kita tidak memanfaatkan kejadian ini dengan mengkambing hitamkan pihak lain, menarik simpati dan dukungan warga, memanfaatkan kejadian demi publisitas, dan memperkeruh suasana. Mendingan semua elemen bahu membahu deh cari solusi mengatasi kemiskinan. Kan ini tanggungjawab bersama, bukan bisanya cuma nyalahin orang lain. Bukankah lebih baik kita menyumbangkan saran, ide, gagasan, untuk dapat memecahkan masalah ini, bukankah hal ini lebih permanen ketimbang bantuan materi (dengan pamrih minta dipilih) :))

Banyak sekali orang yang demi uang yang mungkin menurut kita tidak material, mereka rela bersusah payah memperolehnya. Mungkin bagi sebagian besar kita, apalah arti uang 30.000, toh untuk beli tas yang murah aja minimal 50.000, atau buat sekali makan di restoran juga nggak cukup. Tapi buat mereka 30.000 bisa menyambung hidup mereka beberapa hari. Setidaknya saya sangat bersukur kepada Allah, diberi kemudahan dalam memperoleh rejeki. Dan untuk itu saya tidak mau berboros-boros lagi menghabisakan sekian ratus ribu dalam sekejap mata untuk membeli sesuatu yang mungkin sebetulnya saya tidak perlukan. Malu rasanya, melihat bahwa kemiskinan masih di sekeliling kita, dan saya begitu tidak pedulinya. Saya ngerti sekarang tentang kata-kata didalam rejeki saya, ada hak orang fakir dan miskin. Bukankah semua ini cuma titipan, dan kelak Allah akan memintakan pertanggungjawaban kita di akhirat kelak. Bahwa harta saya bukanlah milik saya, tetapi milik Allah yang dipercayakan kepada saya untuk dikelola. Kalo bukan dari diri sendiri mau mulai dari siapa ? Kalo bukan sekarang mau mulai kapan ? Bersyukur sekali Allah menegur saya lewat kejadian ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: