Simbolisme dalam ibadah sholat

source : here

Shalat merupakan suatu upacara (ceremony), lebih spesifik upacara keagamaan. Dalam Dictionary of Anthropology (Winick, 1977:105), Charles Winick menjelaskan pengertian upacara sebagai berikut; “a fixed or sanctioned pattern of behavior which surrounds various phases of life, often serving religious aesthetic ends and confirming the group”s celebration of a particular situation” (pola perilaku yang ditentukan atau mengandung sanksi, yang melingkupi berbagai tahap kehidupan, sering untuk memenuhi tujuan estetis religius dan memperkuat perayaan suatu kelompok pada situasi tertentu). Noah Webster menyebut upacara sebagai “behavior regulated by the laws of strict etiquette” (Webster, 1953:146), yaitu perilaku yang diatur oleh hukum etika yang tegas.

Simbolisme Shalat
Menurut bahasa shalat artinya doa, sedangkan menurut istilah shalat berarti suatu sistem ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan (bacaan) dan laku perbuatan, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, berdasar atas syarat-syarat dan rukun-rukun tertentu (Razak, 1981:178).

Shalat mempunyai nilai dan kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam, yaitu ; Shalat merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang wajib dikerjakan orang yang beriman (Q.S. 4:103), shalat untuk mengingat Allah dan memohon pertolongan-Nya (Q.S. 2:153 ; 20:14), dengan shalat yang baik akan diperoleh keberuntungan (Q.S. 23:1-2), dan shalat dapat mencegah keburukan (kemunkaran) (Q.S. 29:45).

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa shalat sebagai tiang agama, siapa yang mengerjakannya dia menegakkan agama dan yang tidak mengerjakan dia merubuhkannya. Beliau juga bersabda bahwa shalat merupakan mi”rajul-mu”miniin, shalat menjadi pembatas antara orang yang beriman dan yang tidak beriman, dan shalat adalah amalan yang dihitung pertama kali pada hari kiamat kelak. Selain itu, shalat adalah ibadah mahdhah yang paling sering dilaksanakan.

Shalat merupakan bentuk ibadah yang sangat kongkrit karena pelaku, gerakan maupun bacaannya sangat mudah dipantau oleh indra manusia. Shalat merupakan “simbol”, yaitu ritual symbol. Shalat sebagai simbol ritual menggambarkan sesuatu yang lain sebagai makna simbolik karena mempunyai analog atau asosiasi antara idealita dan realita. Nilai atau makna simbolik dalam shalat berupa hal-hal yang di luar mekanisme shalat. Dalam hal ini shalat merupakan “simbol kehidupan”, yaitu menggambarkan alur kehidupan maupun nilai-nilai yang ada dalam kehidupan.

Simbolisme shalat dapat diketahui dalam syarat, gera¬kan, dan bacaan shalat serta dalam shalat jama”ah. Dalam tulisan singkat ini akan dibahas simbol dalam syarat shalat, gerakan shalat, dan shalat jama”ah.

1. Simbol Syarat Shalat
Syarat adalah sesuatu yang harus dipenuhi agar apa yang diinginkan atau dilakukan dapat diterima (sah), sedangkan sesuatu itu berada di luar apa yang diinginkan atau dilakukan tersebut. Syarat-syarat shalat antara lain pelakunya seorang muslim, baligh (dewasa) dan berakal sehat, mengetahui waktunya, suci dari segala najis (kotoran), menutup aurat, dan menghadap kiblat (Rifai, 1976:35 ; Shiddieqy, 1974:105-109).

Shalat dilakukan oleh orang Islam (muslim), yaitu orang yang telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, dan tunduk kepada Allah SWT agar terjamin keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat. Hal ini berarti bahwa status muslim merupakan status simbol yang menggambarkan keadaan atau apa yang seharusnya dilakukan oleh pemegang status tersebut. Status mahasiswa, dosen, guru, petani, dokter, kepala keluarga, dan lainnya menggambarkan keadaan atau apa yang seharusnya dilakukan oleh pemegang status itu. Seorang mahasiswa harus mampu menggambarkan dirinya sebagai seorang mahasiswa, bukan seorang anak jalanan. Seorang dokter harus berbuat sebagai¬mana layaknya dokter, bukan petani. Seseorang harus mampu memerankan statusnya dengan benar dan tepat.

Shalat merupakan amanat Tuhan. Orang yang mengerjakannya harus berakal sehat dan dewasa. Kedewasaan dan akal sehat seseo¬rang mampu mengemban amanat yang ada dalam statusnya. Amanat hanya bisa diemban oleh orang-orang yang berakal sehat dan dewasa, sedangkan orang yang gila dan masih kanak-kanak tidak dibeba¬ni dengan amanat; mereka bebas dari hukum. Hal ini lebih jelas lagi jika melihat bahwa agama Islam sebagai ad-diinul-“aql (agama akal), yaitu agama yang melibatkan akal sehat manusia dalam memecahkan atau mempertimbangkan sesuatu.

Kehidupan manusia tidak lepas dari dimensi waktu. Dengan waktu itulah roda sejarah hidup manusia berjalan. Agar dapat mengikuti sejarah hidupnya, manusia dituntut untuk memahami waktu (lampau, sekarang, besok). Pengabaian terhadap waktu akan mengakibatkan manusia terasing dalam sejarahnya, yang pada gilirannya akan melahirkan stagnasi (statis) karena ia tidak mengenal kedi¬namisan. Hal inilah makna simbolik dari mengetahui waktu ketika melaksanakan shalat.
Sebelum melaksanakan shalat seseorang harus menyucikan diri dari segala bentuk najis (kotoran), baik raga, tempat, pakaian, maupun jiwanya. Keharusan ini dilakukan sehari semalam lima kali, sejak anak-anak (sepuluh tahun) hingga dewasa. Oleh karena itu makna simbol ini adalah bahwa setiap muslim harus senantiasa suci (bersih) dalam kehidupannya. Dengan demikian seorang muslim seharusnya dapat terhindar dari segala bentuk yang negatif seperti korupsi, manipulasi, mencuri, berjudi, dan prostitusi.

Syarat shalat yang lain adalah menutup aurat, yaitu menutup bagian tubuh yang seharusnya tidak diperkenankan terlihat. Syarat ini merupakan adab kesopanan dalam hal pakaian saat menghadap Tuhan yang Maha Esa. Jika setiap hari dilatih untuk menerapkan adab kesopanan ini, maka seseorang akan terbiasa dengan kehidupan yang indah dan bersih.

Aurat seseorang menyangkut harga diri. Menurut aurat berarti menjaga harga diri agar tetap dihormati. Pepatah Jawa mengatakan, Ajining sarira gumantung ana ing busana (harga diri tergantung pada pakaian yang dipakai). Selain harga diri, menutup aurat bermakna simbolik lain, yaitu menyimpan rahasia dengan teguh, baik rahasia pribadi, kelompok maupun negara.

Para ulama bersepakat bahwa orang yang akan mengerjakan shalat secara wajar (bukan darurat) diwajibkan menghadap ke kiblat di Makkah. Ka”bah menjadi titik sentral dari konfigurasi lingkaran. Hal ini karena pada saat shalat kaum muslimin yang berada di timur ka”bah menghadap ke barat, yang di selatan mengahadap ke utara, yang di barat menghadap ke timur, yang di utara menghadap ke selatan. Konfigurasi lingkaran ini mempunyai makna simbolik yang mendalam. Seluruh isi jagat raya, baik jenis makro¬kosmos maupun mikrokosmos, menunjukkan konfigurasi lingkaran. Seluruh isi alam semesta bergerak melingkar.

Dalam skala makro dapat diketahui bahwa bulan mengelilingi bumi sembari dia sendiri berputar pada porosnya. Bulan dan bumi, sembari bumi sendiri berputar pada porosnya, mengelilingi matahari. Planet-planet lain juga melingkari matahari. Dalam skala mikro dapat diketahui bahwa setiap benda mempunyai molekul yang terdiri dari atom-atom. Inti atom yang berupa netron dikelilingi oleh proton dan elektron. Selain menunjukkan gerak orbital, shalat menghadap kiblat juga menunjukkan adanya kesatuan dan kekompakan ummat Islam yang pada gilirannya akan membentuk satu kesatuan ummat manusia (unity of mankind). Kesatuan ini terwujud karena kesepakatan dan kebersa¬maan ummat tersebut. Kesepakatan ummat terlihat ketika shalat dengan menyembah Tuhan yang sama, menghadap kiblat yang sama, melakukan gerak yang sama, dan meneladani Nabi yang sama.

2. Simbol Gerakan Shalat
Gerakan shalat meliputi gerakan berdiri tegak, takbirotul-ikhrom, berdiri bersedekap, ruku”, i”tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kedua, duduk tahiyyat dan salam. Makna simbolik dalam gerakan shalat dapat dilacak melalui keseluruhan dari gerakan shalat atau tiap-tiap bagian gerakan itu. Keseluru¬han gerakan shalat, mulai takbirotul-ikhrom hingga salam, ternya¬ta menggambarkan alur kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Alur kehidupan itu dimulai dari masa baligh yang menandakan dimulainya tanggung jawab pribadi dan diakhiri ketika manusia telah menerima keputusan akhir dari Tuhan pada hari kiamat kelak.
Niat dan mengangkat tangan untuk takbirotul-ikhrom sebagai awal shalat mengindikasikan kesiapan seseorang untuk bertanggung jawab atas amanat dalam kehidupannya. Posisi tegak berdiri sambil bersedekap menggambarkan kekokohan, kekuatan, dan kedinamisan masa hidup orang muda

Drs. M. Muhtar Arifin Sholeh, M.Lib , 23 Agustus 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: